Translate

Saturday, January 4, 2014

Masih rendahnya penduduk Indonesia konsumsi Ayam dan Telur

AYAM dan telur bukanlah jenis makanan yang asing bagi penduduk Indonesia. Kedua jenis makanan tersebut sangat mudah dijumpai dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Bahkan di desa, hampir semua penduduk menjadi peternak ayam meski dalam skala kecil.
Sayangnya, fakta tersebut tidak menjamin bahwa tingkat konsumsi ayam dan telur penduduk Indonesia tinggi. Dalam penelitian, disebutkan konsumsi masyarakat Indonesia terhadap ayam dan telur hanya 7 kg ayam dan 87 butir telur per tahun per kapita.
Jumlah di atas ternyata masih sangat jauh dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand dan Filipina. “Bahkan dengan Vietnam yang belum lama merdekapun, tingkat konsumsi ayam dan telur masyarakat kita masih kalah,” kata Ketua Asosiasi Rumah Potong Hewan dan Unggas Indonesia, Ir. Achmad Dawami.
Sebagai gambaran, masyarakat Malaysia sudah mengkonsumsi telur rata-rata 311 butir per kapita per tahun dan daging ayam 38 kg per kapita per tahun. Kondisi ini tentu sangat memprihatinkan. Sebab sebagai makanan dengan kandungan protein yang tinggi, ayam dan telur mestinya menjadi pilihan yang mudah dan murah bagi masyarakat untuk mendapatkan kecukupan protein hewani.
“Anak-anak balita adalah golongan usia yang membutuhkan asupan protein yang cukup untuk mendukung perkembangan kecerdasan otak dan pertumbuhan badannya,” lanjut Achmad.
Ada banyak faktor yang mempengaruhi perilaku konsumsi masyarakat Indonesia terhadap ayam dan telur ini. Misalnya saja adanya mitos bahwa telur menjadi penyebab penyakit bisul pada anak-anak masih sangat kuat dipegang oleh ibu-ibu terutama dari kalangan berpendidikan rendah.
Padahal anggapan ini sangat keliru. Anak yang sering makan telur ternyata memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibanding anak yang kurang makan telur.
Anggapan yang menyesatkan juga dijumpai pada ayam broiler. Ada sebagian masyarakat yang takut makan ayam broiler dengan alasan mengandung hormon yang bisa membahayakan kesehatan. Padahal ayam broiler pertumbuhannya cepat karena merupakan hasil seleksi genetik dari ayam yang memiliki tingkat pertumbuhan diatas rata-rata dan pemberian pakan yang tepat.
Faktor-faktor tersebut diduga menjadi penyebab dari sekian banyak alasan mengapa konsumsi ayam dan telur masyarakat Indonesia masih rendah.
Beberapa pendapat yang mengatakan bahwa rendahnya konsumsi ayam dan telur masyarakat Indonesia akibat rendahnya daya beli mereka, menurut Dawami tidaklah sepenuhnya benar. Sebab banyak orang tua yang justru lebih mengutamakan pengeluaran untuk hal yang tidak penting dibanding untuk memenuhi kebutuhan gizi keluarganya.
“Contohnya, banyak kita temui mereka yang memiliki tingkat ekonomi pas-pasan ternyata lebih rela membeli rokok hingga ratusan ribu rupiah per bulan,” katanya.
Padahal jika uang tersebut dialihkan untuk membeli ayam dan telur maka kebutuhan gizi anak dan keluarganya akan tercukupi. Tapi nyatanya mereka tidak melakukan hal itu.
“Jadi rendahnya pemenuhan kebutuhan gizi tidak semata-mata disebabkan karena kurangnya daya beli melainkan masih rendahnya tingkat kesadaran warga untuk memenuhinya.”
Masyarakat perunggasan lanjutnya akan terus berupaya mendorong kesadaran masyarakat agar meningkatkan konsumsi telur dan ayam sebagai sumber protein hewani yang murah meriah dan aman.
Ada banyak kegiatan yang bisa diikuti masyarakat mulai dari bazaar murah telur dan ayam, talkshow, demo masak chef pilihan dari para duta besar, pameran bisnis franchise ayam Indonesia, kampung main kidzania dan aneka hiburan lainnya. Harapannya, melalui festival ini kesadaran masyarakat Indonesia untuk mengkonsumsi ayam dan telur meningkat tajam. (dikutip dari Pos Kota)
Teks : Ketua Asosiasi Rumah Potong Hewan dan Unggas Indonesia, Achmad Dawami.

No comments: