Translate

Thursday, January 24, 2013

BUDIDAYA PISANG



INVESTASI AGRIBISNIS KOMODITASUNGGULAN ( HORTIKULTURA ) PISANG

 

A. PENDAHULUAN
Pisang ( Musa paradisica ) adalah buah-buahan yang digemari di Indonesia jarena rasanya enak,kandungan gizi tinggi,mudah didapat,harga relatif murah.konsumsi pisang per kapita meningkat sejalan dengan peningkatan pendapatan.
Peluang pisang besar untuk pasar domestik ataupun ekspor.potensi pasar domestik berkembang dengan semakin meningkatnya jumlah penduduk.kaernya peluang pisang semakin besar di masa mendatang
Indonesia merupakan salah satu negara pengekspor buah pisang,walaupun volumenya relatif kecil.negara tujuan ekspor adalah Amerika,Asia,dan Timur Tengah.
B. PROSPEK PASAR PISANG
Produksi Pisang Indonesia cenderung meningkat,sedangkan konsumsi meningkat.laju pertumbuhan konsumsi yang sedikit lebih rendah ini diduga akibat makin banyaknya pisang ekspor dan makin beragamnya jenis buah lain baik lokal mapun impor.
Pertumbuhan ekonomi dan peningkatan pendapatan per kapita yang cukup tinggi akan mendorong permintaan pisang.hal ini menunjukan bahwa pasar dalam negeri memiliki prospek cerah dalam pengembangan pisang.
Harga pisang ditingkat produsen terus meningkat,sementara harga ekspor cenderung fluktuatif mengikuti situasi perdagangan dunia.
Perkembangan produksi dan ekspor pisang dunia ternyata sedikit lebih rendah jika di bandingkan impor dan konsumsinya.
Negara produsen utama pisang di dunia adalah Ekuador,Kosta Rika,Panama,Filipina dan Indonesia.
Negara Importir pisang terbesar di dunia adalah Amerika,Jepang,dan Uni Eropa. Dibandingkan dengan tahu-tahun sebelumnya pangsa impor negara-negara importir terus meningkat,Hal ini merupakan peluang pasar bagi Indonesia.
C. POTENSI DAN PELUANG PENGEMBANGAN AGRIBISNIS KOMODITAS PISANG
Produksi pisang di Indonesia sebagian besar masih ada di pulau Jawa,diluar itu ada Sulawesi Selatan dan Lampung.
Indonesia mempunyai potensi sumber daya lahan yang sangat besar untu pengembangan agribisnis Pisang yaitu 2,8 juta ha yang tergolong mempunyai potensi cukup tinggi dan 0.8 juta ha tergolong sedang.
Dengan demikian Indonesia mempunyai potensi lahan yang sesuai dengan pengembangan pisang seluas 3,6 juta ha.lahan-lahan tersebut tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
Salah satu penghasil Piasang terbesar adalah Jawa Tengah,namun belum tergarap secara optimal,serah dengan kebijakan pembangunan pertanian dengan pendekatan sistem agribisnis maka pengembangan Pisang dilakukan dengan pendekatan spesifikasi lokasi.
D. ANALISIS KELAYAKAN KOMODITAS PISANG
Perhitungan analisis agribisnis Pisang dilakukan pada skala 1 ha dilakukan.untuk menanam Pisang dibutuhkan biaya Rp.8.260.000 selama 4 tahun. terdiri dari biaya tetap/biaya investasi Rp.1.120..000 yang meliputi biaya sewa lahan dan pembelian alat pertanian kecil dan biaya tdk tetap/biaya operasional Rp.7.140.000. meliputi pembelian benih,pupuk,pestisida serta biaya tenaga kerja untuk pengelolaan lahan,pemeliharaan dan panen.
Tanaman Pisang mulai berproduksi pada umur 12 bulan sebanyak 750 tandan per ha dengan berat rata-rata 30 kg.Panen kedua,ketiga, da keempat masing-masing 1500 tandan/ha dengan selang waktu panen 8 bulan.
Setelah panen keempat tanaman pisang dibongkar.dengan asumsi produk layak jual hanya 25 % dari total produksi dan harga jual sebesar Rp.4000/tandan,maka penerimaan petani pisang ( selama 4 tahun ) Rp.13.500.000.dengan total biaya Rp.8.260.000.maka pendapatan petani pisang selama 4 tahun Rp.4.021.125 (pendapatan setelah pajak PPN 10%) atau pendapatan rata-rata per tahun Rp.1.340.37.
Sumber: http://portalagribisnis.deptan.go.id

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Budidaya Pertanian


1.
SEJARAH SINGKAT

Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan di Asia Tenggara (termasuk Indonesia). Tanaman ini kemudian menyebar ke Afrika (Madagaskar), Amerika Selatan dan Tengah. Di Jawa Barat, pisang disebut dengan Cau, di Jawa Tengah dan Jawa Timur dinamakan gedang.
2.
JENIS TANAMAN

Klasifikasi botani tanaman pisang adalah sebagai berikut:
Divisi
: Spermatophyta
Sub Divisi
: Angiospermae
Kelas
: Monocotyledonae
Keluarga
: Musaceae
Genus
: Musa
Species
: Musa spp.

Jenis pisang dibagi menjadi:
1)
Pisang yang dimakan buahnya tanpa dimasak yaitu M. paradisiaca var Sapientum, M. nana atau disebut juga M. cavendishii, M. sinensis.
Misalnya pisang ambon, susu, raja, cavendish, barangan dan mas.
2)
Pisang yang dimakan setelah buahnya dimasak yaitu M. paradisiaca forma typicaatau disebut juga M. paradisiaca normalis.
Misalnya pisang nangka, tanduk dan kepok.
3)
Pisang berbiji yaitu M. brachycarpa yang di Indonesia dimanfaatkan daunnya.
Misalnya pisang batu dan klutuk.
4)
Pisang yang diambil seratnya misalnya pisang manila (abaca).
3.
MANFAAT TANAMAN

Pisang adalah buah yang sangat bergizi yang merupakan sumber vitamin, mineral dan juga karbohidrat. Pisang dijadikan buah meja, sale pisang, pure pisang dan tepung pisang. Kulit pisang dapat dimanfaatkan untuk membuat cuka melalui proses fermentasi alkohol dan asam cuka. Daun pisang dipakai sebagi pembungkus berbagai macam makanan trandisional Indonesia.
Batang pisang abaca diolah menjadi serat untuk pakaian, kertas dsb. Batang pisang yang telah dipotong kecil dan daun pisang dapat dijadikan makanan ternak ruminansia (domba, kambing) pada saat musim kemarau dimana rumput tidak/kurang tersedia.
Secara tradisional, air umbi batang pisang kepok dimanfaatkan sebagai obat disentri dan pendarahan usus besar sedangkan air batang pisang digunakan sebagai obat sakit kencing dan penawar racun.
4.
SENTRA PENANAMAN

Hampir di setiap tempat dapat dengan mudah ditemukan tanaman pisang. Pusat produksi pisang di Jawa Barat adalah Cianjur, Sukabumi dan daerah sekitar Cirebon. Tidak diketahui dengan pasti berapa luas perkebunan pisang di Indonesia. Walaupun demikian Indonesia termasuk salah satu negara tropis yang memasok pisang segar/kering ke Jepang, Hongkong, Cina, Singapura, Arab, Australia, Negeri Belanda, Amerika Serikat dan Perancis. Nilai ekspor tertinggi pada tahun 1997 adalah ke Cina.
5.
SYARAT TUMBUH

5.1.
Iklim
1.
Iklim tropis basah, lembab dan panas mendukung pertumbuhan pisang. Namun demikian pisang masih dapat tumbuh di daerah subtropis. Pada kondisi tanpa air, pisang masih tetap tumbuh karena air disuplai dari batangnya yang berair tetapi produksinya tidak dapat diharapkan.
2.
Angin dengan kecepatan tinggi seperti angin kumbang dapat merusak daun dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman.
3.
Curah hujan optimal adalah 1.520–3.800 mm/tahun dengan 2 bulan kering. Variasi curah hujan harus diimbangi dengan ketinggian air tanah agar tanah tidak tergenang.
5.2.
Media Tanam
1.
Pisang dapat tumbuh di tanah yang kaya humus, mengandung kapur atau tanah berat. Tanaman ini rakus makanan sehingga sebaiknya pisang ditanam di tanah berhumus dengan pemupukan.
2.
Air harus selalu tersedia tetapi tidak boleh menggenang karena pertanaman pisang harus diari dengan intensif. Ketinggian air tanah di daerah basah adalah 50 – 200 cm, di daerah setengah basah 100 – 200 cm dan di daerah kering 50 – 150 cm. Tanah yang telah mengalami erosi tidak akan menghasilkan panen pisang yang baik. Tanah harus mudah meresapkan air. Pisang tidak hidup pada tanah yang mengandung garam 0,07%.
5.3.
Ketinggian Tempat
Tanaman ini toleran akan ketinggian dan kekeringan. Di Indonesia umumnya dapat tumbuh di dataran rendah sampai pegunungan setinggi 2.000 m dpl. Pisang ambon, nangka dan tanduk tumbuh baik sampai ketinggian 1.000 m dpl
6.
PEDOMAN BUDIDAYA

6.1.
Pembibitan
Pisang diperbanyak dengan cara vegetatif berupa tunas-tunas (anakan).
  1. Persyaratan Bibit
    Tinggi anakan yang dijadikan bibit adalah 1-1,5 m dengan lebar potongan umbi 15-20 cm. Anakan diambil dari pohon yang berbuah baik dan sehat. Tinggi bibit akan berpengaruh terhadap produksi pisang (jumlah sisir dalam tiap tandan). Bibit anakan ada dua jenis: anakan muda dan dewasa. Anakan dewasa lebih baik digunakan karena sudah mempunyai bakal bunga dan persediaan makanan di dalam bonggol sudah banyak. Penggunaan bibit yang berbentuk tombak (daun masih berbentuk seperti pedang, helai daun sempit) lebih diutamakan daripada bibit dengan daun yang lebar.
  2. Penyiapan Benih
    Bibit dapat dibeli dari daerah/tempat lain atau disediakan di kebun sendiri. Tanaman untuk bibit ditanam dengan jarak tanam agak rapat sekitar 2 x 2 m. Satu pohon induk dibiarkan memiliki tunas antara 7-9. Untuk menghindari terlalu banyaknya jumlah tunas anakan, dilakukan pemotongan/penjarangan tunas.
  3. Sanitasi Bibit Sebelum Ditanam
    Untuk menghindari penyebaran hama/penyakit, sebelum ditanam bibit diberi
    perlakuan sebagai berikut:
a)
Setelah dipotong, bersihkan tanah yang menempel di akar.
b)
Simpan bibit di tempat teduh 1-2 hari sebelum tanam agar luka pada umbi mengering. Buang daun-daun yang lebar.
c)
Rendam umbi bibit sebatas leher batang di dalam insektisida 0,5–1% selama 10 menit. Lalu bibit dikeringanginkan.
d)
Jika tidak ada insektisida, rendam umbi bibit di air mengalir selama 48 jam.
e)
Jika di areal tanam sudah ada hama nematoda, rendam umbi bibit di dalam air panas beberapa menit.


6.2.
Pengolahan Media Tanam
  1. Pembukaan Lahan
    Pemilihan lahan harus mempertimbangkan aspek iklim, prasarana ekonomi dan letak pasar/industri pengolahan pisang, juga harus diperhatikan segi keamanan sosial.
    Untuk membuka lahan perkebunan pisang, dilakukan pembasmian gulma, rumput atau semak-semak, penggemburan tanah yang masih padat; pembuatan sengkedan dan pembuatan saluran pengeluaran air.
  2. Pembentukan Sengkedan
    Bagian tanah yang miring perlu disengked (dibuat teras). Lebar sengkedan tergantung dari derajat kemiringan lahan. Lambung sengkedan ditahan dengan rerumputan atau batu-batuan jika tersedia. Dianjurkan untuk menanam tanaman legum seperti lamtoro di batas sengkedan yang berfungsi sebagai penahan erosi, pemasuk unsur hara N dan juga penahan angin.
  3. Pembuatan Saluran Pembuangan Air
    Saluran ini harus dibuat pada lahan dengan kemiringan kecil dan tanah-tanah datar. Di atas landasan dan sisi saluran ditanam rumput untuk menghindari erosi dari landasan saluran itu sendiri.
6.3.
Teknik Penanaman
  1. Penentuan Pola Tanaman
    Jarak tanam tanaman pisang cukup lebar sehingga pada tiga bulan pertama memungkinkan dipakai pola tanam tumpang sari/tanaman lorong di antara tanaman pisang. Tanaman tumpang sari/lorong dapat berupa sayur-sayuran atau tanaman pangan semusim.
    Di kebanyakan perkebunan pisang di wilayah Asia yang curah hujannya tinggi, pisang ditanam bersama-sama dengan tanaman perkebunan kopi, kakao, kelapa dan arecanuts. Di India Barat, pisang untuk ekspor ditanam secara permanen dengan kelapa.
  2. Pembuatan Lubang Tanam
    Ukuran lubang adalah 50 x 50 x 50 cm pada tanah berat dan 30 x 30 x 30 cm atau 40 x40 x 40 cm untuk tanah-tanah gembur. Jarak tanam 3 x 3 m untuk tanah sedang dan 3,3 x 3,3 m untuk tanah berat.
  3. Cara Penanaman
    Penanaman dilakukan menjelang musim hujan (September-Oktober). Sebelum tanam lubang diberi pupuk organik seperti pupuk kandang/kompos sebanyak 15– 20 kg. Pemupukan organik sangat berpengaruh terhadap kualitas rasa buah.
6.4.
Pemeliharaan Tanaman
  1. Penjarangan
    Untuk mendapatkan hasil yang baik, satu rumpun harus terdiri atas 3-4 batang. Pemotongan anak dilakukan sedemikian rupa sehingga dalam satu rumpun terdapat anakan yang masing-masing berbeda umur (fase pertumbuhan). Setelah 5 tahun rumpun dibongkar untuk diganti dengan tanaman yang baru.
  2. Penyiangan
    Rumput/gulma di sekitar pohon induk harus disiangi agar pertumbuhan anak dan juga induk baik. Penyiangan dilakukan bersamaan dengan penggemburan dan penimbunan dapuran oleh tanah agar perakaran dan tunas bertambah banyak. Perlu diperhatikan bahwa perakaran pisang hanya rata-rata 15 cm di bawah permukaan tanah, sehingga penyiangan jangan dilakukan terlalu dalam.
  3. Perempalan
    Daun-daun yang mulai mengering dipangkas agar kebersihan tanaman dan sanitasi lingkungan terjaga. Pembuangan daun-daun ini dilakukan setiap waktu.
  4. Pemupukan
    Pisang sangat memerlukan kalium dalam jumlah besar. Untuk satu hektar, pisang memerlukan 207 kg urea, 138 kg super fosfat, 608 kg KCl dan 200 kg batu kapur sebagai sumber kalsium.
Pupuk N diberikan dua kali dalam satu tahun yang diletakkan di dalam larikan yang mengitari rumpun tanaman. Setelah itu larikan ditutup kembali dengan tanah. Pemupukan fosfat dan kalium dilaksanakan 6 bulan setelah tanam (dua kali dalam setahun).
  1. Pengairan dan Penyiraman
    Pisang akan tumbuh subur dan berproduksi dengan baik selama pengairannya terjaga. Tanaman diairi dengan cara disiram atau mengisi parit-parit/saluran air yang berada di antara barisan tanaman pisang.
  2. Pemberian Mulsa
    Tanah di sekitar rumpun pisang diberi mulsa berupa daun kering ataupun basah. Mulsa berguna untuk mengurangi penguapan air tanah dan menekan gulma, tetapi pemulsaan yang terus menerus menyebabkan perakaran menjadi dangkal sehingga pada waktu kemarau tanaman merana. Karena itu mulsa tidak boleh dipasang terus menerus.
  3. Pemeliharaan Buah
    Jantung pisang yang telah berjarak 25 cm dari sisir buah terakhir harus dipotong agar pertumbuhan buah tidak terhambat. Setelah sisir pisang mengembang sempurna, tandan pisang dibungkus dengan kantung plastik bening. Kantung plastik polietilen dengan ketebalan 0,5 mm diberi lubang dengan diameter 1,25 cm. Jarak tiap lubang 7,5 cm. Ukuran kantung plastik adalah sedemikian rupa sehingga menutupi 15-45 cm di atas pangkal sisir teratas dan 25 cm di bawah ujung buah dari sisir terbawah. Untuk menjaga agar tanaman tidak rebah akibat beratnya tandan, batang tanaman disangga dengan bambu yang dibenamkan sedalam 30 cm ke dalam tanah.
7.
HAMA DAN PENYAKIT

7.1.
Hama
1.
Ulat daun (Erienota thrax.)
Bagian yang diserang adalah daun.
Gejala: daun menggulung seperti selubung dan sobek hingga tulang daun.
Pengendalian: dengan menggunakan insektisida yang cocok belum ada, dapat dicoba dengan insektisida Malathion.
2.
Uret kumbang (Cosmopolites sordidus)
Bagian yang diserang adalah kelopak daun, batang.
Gejala: lorong-lorong ke atas/bawah dalam kelopak daun, batang pisang penuh lorong.
Pengendalian: sanitasi rumpun pisang, bersihkan rumpun dari sisa batang pisang, gunakan bibit yang telah disucihamakan.
3.
Nematoda (Rotulenchus similis, Radopholus similis).
Bagian yang diserang adalah akar.
Gejala: tanaman kelihatan merana, terbentuk rongga atau bintik kecil di dalam akar, akar bengkak.
Pengendalian: gunakan bibit yang telah disucihamakan, tingkatkan humus tanah dan gunakan lahan dengan kadar lempung kecil.
4.
Ulat bunga dan buah (Nacoleila octasema.)
Bagian yang diserang adalah bunga dan buah.
Gejala: pertumbuhan buah abnormal, kulit buah berkudis. Adanya ulat sedikitnya 70 ekor di tandan pisang.
Pengendalian: dengan menggunakan insektisida.
7.2.
Penyakit
1.
Penyakit darah
Penyebab: Xanthomonas celebensis (bakteri). Bagian yang diserang adalah jaringan tanaman bagian dalam.
Gejala: jaringan menjadi kemerah-merahan seperti berdarah.
Pengendalian: dengan membongkar dan membakar tanaman yang sakit.
2.
Panama
Penyebab: jamur Fusarium oxysporum. Bagian yang diserang adalah daun.
Gejala: daun layu dan putus, mula-mula daun luar lalu daun di bagian dalam, pelepah daun membelah membujur, keluarnya pembuluh getah berwarna hitam.
Pengendalian: membongkar dan membakar tanaman yang sakit.
3.
Bintik daun
Penyebab: jamur Cercospora musae. Bagian yang diserang adalah daun dengan gejala bintik sawo matang yang makin meluas.
Pengendalian: dengan menggunakan fungisida yang mengandung Copper oksida atau Bubur Bordeaux
(BB).
4.
Layu
Penyebab: bakteri Bacillus . Bagian yang diserang adalah akar.
Gejala: tanaman layu dan mati.
Pengendalian: membongkar dan membakar tanaman yang sakit.
5.
Daun pucuk
Penyebab: virus dengan perantara kutu daun Pentalonia nigronervosa. Bagian yang diserang adalah daun pucuk.
Gejala: daun pucuk tumbuh tegak lurus secara berkelompok.
Pengendalian: cara membongkar dan membakar tanaman yang sakit.
7.3.
Gulma
Tidak lama setelah tanam dan setelah kanopi dewasa terbentuk, gulma akan menjadi persoalan yang harus segera diatasi. Penanggulangan dilakukan dengan:
1.
Penggunaan herbisida seperti Paraquat, Gesapax 80 Wp, Roundup dan dalapon.
2.
Menanam tanaman penutup tanah yang dapat menahan erosi, tahan naungan, tidak mudah diserang hama-penyakit, tidak memanjat batang pisang. Misalnya Geophila repens.
3.
Menutup tanah dengan plastik polietilen.
8.
P A N E N

8.1.
Ciri dan Umur Panen
Pada umur 1 tahun rata-rata pisang sudah berbuah. Saat panen ditentukan oleh umur buah dan bentuk buah. Ciri khas panen adalah mengeringnya daun bendera. Buah yang cukup umur untuk dipanen berumur 80-100 hari dengan siku-siku buah yang masih jelas sampai hampir bulat. Penentuan umur panen harus didasarkan pada jumlah waktu yang diperlukan untuk pengangkutan buah ke daerah penjualan sehingga buah tidak terlalu matang saat sampai di tangan konsumen. Sedikitnya buah pisang masih tahan disimpan 10 hari setelah diterima konsumen.
8.2.
Cara Panen
Buah pisang dipanen bersama-sama dengan tandannya. Panjang tandan yang diambil adalah 30 cm dari pangkal sisir paling atas. Gunakan pisau yang tajam dan bersih waktu memotong tandan. Tandan pisang disimpan dalam posisi terbalik supaya getah dari bekas potongan menetes ke bawah tanpa mengotori buah.
Dengan posisi ini buah pisang terhindar dari luka yang dapat diakibatkan oleh pergesekan buah dengan tanah.
Setelah itu batang pisang dipotong hingga umbi batangnya dihilangkan sama sekali. Jika tersedia tenaga kerja, batang pisang bisa saja dipotong sampai setinggi 1 m dari permukaan tanah. Penyisaan batang dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan tunas.
8.3.
Periode Panen
Pada perkebunan pisang yang cukup luas, panen dapat dilakukan 3-10 hari sekali tergantung pengaturan jumlah tanaman produktif.
8.4.
Perkiraan Produksi
Belum ada standard produksi pisang di Indonesia, di sentra pisang dunia produksi 28 ton/ha/tahun hanya ekonomis untuk perkebunan skala rumah tangga. Untuk perkebunan kecil (10-30 ha) dan perkebunan besar (> 30 ha), produksi yang ekonomis harus mencapai sedikitnya 46 ton/ha/tahun.
9.
PASCA PANEN

Secara konvensional tandan pisang ditutupi dengan daun pisang kering untuk mengurangi penguapan dan diangkut ke tempat pemasaran dengan menggunakan kendaraan terbuka/tertutup. Untuk pengiriman ke luar negeri, sisir pisang dilepaskan dari tandannya kemudian dipilah-pilah berdasarkan ukurannya. Pengepakan dilakukan dengan menggunakan wadah karton. Sisir buah pisang dimasukkan ke dos dengan posisi terbalik dalam beberapa lapisan. Sebaiknya luka potongan di ujung sisir buah pisang disucihamakan untuk menghindari pembusukan.
10.
ANALISIS EKONOMI BUDIDAYA TANAMAN

10.1.
Analisis Usaha Budidaya
Perkiraan analisis budidaya pisang dengan luasan 1 ha di daerah Jawa Barat 
1) Biaya produksi 1 ha pisang dari tahun ke-1 sampai ke-4 adalah:
a)
Tahun ke-1
Rp. 5.338.000,-
b)
Tahun ke-2
Rp. 4.235.000,-
c)
Tahun ke-3
Rp. 4.518.000,-
d)
Tahun ke-4
Rp. 4.545.300,-

2) Penerimaan tahun ke I sampai IV *)
a)
Tahun ke-1: 0,8 x 1.000 tandan
Rp. 6.000.000,-
b)
Tahun ke-2: 0,8 x 2.000 tandan
Rp. 12.000.000,-
c)
Tahun ke-3: 0,8 x 2.000 tandan
Rp. 12.000.000,-
d)
Tahun ke-4: 0,8 x 2.000 tandan
Rp. 12.000.000,-

3) Keuntungan
a)
Keuntungan selama 4 tahun penanaman
Rp. 23.363.700,-
b)
Keuntungan/tahun
Rp. 5.840.925,-

4) Parameter Kelayakan Usaha
a)
Output/Input rasio
= 2,150

Keterangan : *) perkiraan harga 1 tandan Rp. 7.500,-
10.2.
Gambaran Peluang Agribisnis
Perkebunan pisang yang permanen (diusahakan terus menerus) dengan mudah dapat ditemukan di Meksiko, Jamaika, Amerika Tengah, Panama, Kolombia, Ekuador dan Filipina. Di negara tersebut, budidaya pisang sudah merupakan suatu industri yang didukung oleh kultur teknis yang prima dan stasiun pengepakan yang modern dan pengepakan yang memenuhi standard internasional. Hal tersebut menunjukkan bahwa pisang memang komoditas perdagangan yang sangat tidak mungkin diabaikan. Permintaan pisang dunia memang sangat besar terutama jenis pisang Cavendish yang meliputi 80% dari permintaan total dunia.
Selain berpeluang dalam ekspor pisang utuh, saat ini ekspor pure pisang juga memberikan peluang yang baik. Pure pisang biasanya dibuat dari pisang cavendish dengan kadar gula 21-26 % atau dari pisang lainnya dengan kadar gula < 21%.
Di Indonesia pisang hanya ditanam dalam skala rumah tangga atau kebun yang sangat kecil. Standard internasional perkebunan pisang kecil adalah 10-30 ha. Angka ini belum dicapai di Indonesia. Tanah dan iklim kita sangat mendukung penanaman pisang, karena itu secara teknis pendirian perkebunan pisang mungkin dilakukan.
11.
STANDAR PRODUKSI

11.1.
Ruang Lingkup
Standar ini meliputi: klasifikasi dan, syarat mutu, cara pengambilan contoh, cara uji, syarat penandaan dan cara pengemasan.
11.2.
Diskripsi
Standar buah pisang ini mengacu kepada SNI 01-4229-1996.
11.3.
Klasifikasi dan Standar Mutu
a)
Tingkat Ketuaan Buah (%): Mutu I=70-80; Mutu II <70 & >80
b)
Keseragaman Kultivar: Mutu I=seragam; Mutu II=seragam
c)
Keseragaman Ukuran: Mutu I=seragam; Mutu II=seragam
d)
Kadar kotoran (% dalam bobot kotoran/bobot): Mutu I=0; Mutu II= 0
e)
Tingkat kerusakan fisik/mekanis (% Bobot/bobot): Mutu I=0; Mutu II=0
f)
Kemulusan Kulit (Maksimum): Mutu I=Mulus; Mutu II=Mulus
g)
Serangga: Mutu I=bebas; Mutu II=bebas
h)
Penyakit: Mutu I=bebas; Mutu II=bebas

Adapun persyaratan berdasarkan klasifikasi pisang adalah sebagai berikut:
a)
Panjang Jari (cm): Kelas A 18,1-20,0; Kelas B 16,1-18,0; Kelas C 14,1-16,0
b)
Berat Isi (kg): Kelas A > 3,0; Kelas B 2,5-3,0; Kelas C < 2,5
c)
Dimeter Pisang (cm): Kelas A 2,5; Kelas B > 2,5; Kelas C < 2,5

Untuk mencapai dan mengetahui syarat mutu harus dilakukan pengujian yang meliputi :
a)
Penentuan Keseragaman Kultivar.
Cara kerja dari pengujian adalah ; Hitung jumlah dari seluruh contoh buah pisang segar, amati satu persatu secara visual dan pisahkan buah yang tidak sesuai dengan untuk kultivar ang besangkutan. Hitung jumlah jari buah pisang yang tidak sesuai dengan kultivar tersebut. Hitung persentase jumlah jari buah pisang yang dinilai mempunyai bentuk dan warna yang tidak khas untuk kultivar yang bersangkutan terhadap jumlah jari keseluruhannya.
b)
Penentuan Keseragaman Ukuran Buah.
Ukur panjang dari setiap buah contoh dan dihitung mulai dari ujung buah sampai pangkal tangkai dari seluruh contoh uji dengan menggunakan alat pengukur yang sesuai. Ukur pula garis tengah buah dengan menggunakan mistar geser. Pisahkan sesuai dengan penggolongan yang dinyatakan pada label di kemasan.
c)
Penentuan Tingkat Ketuaan.
Perhatikan sudut-sudut pada kulit buah pisang segar. Buah yang tidsak bersudut lagi (hampir bulat) berati sudah tua 100%, sedangkan yang masih sangat nyata sudutnya berarti tingkat ketuaan masih 70% atau kurang.
d)
Penentuan Tingkat Kerusakan Fisik/Mekanis
Hitung jumlah jari dari seluruh contoh buah pisang. Amati satu persatu jari buah secara visual dan pisahkan buah yang dinilai mengalami kerusakan mekanis/fisik berupa luka atau memar. Hitung jumlah yang rusak lalu bagi dengan jumlah keseluruhannya dan dikalikan dengan 100%.
e)
Penentuan Kadar Kotoran
Timbang seluruh contoh buah yang diuji, amati secara visual kotorang yang ada, pisahkan kotoran yang ada pada buah dan kemasannya seperti tanah, getah, batang, potongan daun atau benda lain yang termasuk dalam istilah kotoran yang menempel pada buah dan kemasan, lalu timbang seluruh kotorannya. Berat kotoran per berat seluruh contoh buah yang diuji kali dengan 100%.
11.4.
Pengambilan Contoh
Satu partai/lot buah pisang segar terdiri dari maksimum 1000 kemasan. Contoh diambil secara acak sebanyak jumlah kemasan.
a)
Jumlah kemasan dalam partai (lot) sampai dengan 100, contoh yang diambil 5.
b)
Jumlah kemasan dalam partai (lot) 101 sampai dengan 300, contoh yang diambil 7.
c)
Jumlah kemasan dalam partai (lot) 301-500, contoh yang diambil 9.
d)
Jumlah kemasan dalam partai (lot) 501-1000, contoh yang diambil 10.
11.5
Pengemasan
Untuk pisang tropis, kardus karton yang digunakan berukuran 18 kg atau 12 kg. Kardus dapat dibagi menjadi dua ruang atau dibiarkan tanpa pembagian ruang. Sebelum pisang dimasukkan, alasi/lapisi bagian bawah dan sisi dalam kardus dengan lembaran plastik/kantung plastik. Setelah pisang disusun tutup pisang
dengan plastik tersebut. Dapat saja kelompok (cluster) pisang dibungkus dengan plastik lembaran/kantung plastik sebelum dimasukkan ke dalam kardus karton.
Pada bagian luar dari kemasan, diberi label yang bertuliskan antara lain:
a)
Produksi Indonesia
b)
Nama kultivar pisang
c)
Nama perusahaan/ekspotir
d)
Berat bersih
e)
Berat kotor
f)
Identitas pembeli
g)
Tanggal panen
h)
Saran suhu penyimpanan/pengangkutan
12.
DAFTAR PUSTAKA

1.
Rismunandar. 1990. Bertanam Pisang. C.V. Sinar Baru. Bandung
2.
Rismunandar. 1990. Membudidayakan Tanaman Buah-buahan. C.V. Sinar Baru. Bandung.
3.
Stover, R.H & N.W. Simmonads. 1993. Banana. Tropical Agriculture Series. Longman Scientific ang Technical. New York.
4.
Hendro Soenarjono. 1998. Teknik Memanen Buah Pisang agar Berkualitas Baik. Trubus no. 341.
Sumber : Sistim Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS







Pisang adalah tanaman buah berupa herba yang berasal dari kawasan Asia Tenggara termasuk Indonesia kemudian menyebar ke Madagaskar Afrika, Amerika Selatan dan Tengah
Jenis pisang dibagi menjadi tiga:
  • Pisang yang dimakan buahnya tanpa dimasak  misalnya pisang ambon, susu, raja, cavendish, barangan dan mas.
  •  Pisang yang dimakan setelah buahnya dimasak misalnya pisang nangka, tanduk dan kepok.
  •  Pisang berbiji misalnya pisang batu dan klutuk.
  • Pisang yang diambil seratnya misalnya pisang manila (abaca).

MANFAAT TANAMAN PISANG

Pisang adalah buah yang sangat bergizi yang merupakan sumber vitamin, mineral dan juga karbohidrat. Pisang dijadikan buah meja, sale pisang, pure pisang dan tepung pisang. Kulit pisang dapat dimanfaatkan untuk membuat cuka melalui proses fermentasi alkohol dan asam cuka. Daun pisang dipakai sebagi pembungkus berbagai macam makanan trandisional Indonesia.
Batang pisang abaca diolah menjadi serat untuk pakaian, kertas dsb. Batang pisang yang telah dipotong kecil dan daun pisang dapat dijadikan makanan ternak ruminansia (domba, kambing) pada saat musim kemarau dimana rumput tidak/kurang tersedia.
Secara tradisional, air umbi batang pisang kepok dimanfaatkan sebagai obat disentri dan pendarahan usus besar sedangkan air batang pisang digunakan sebagai obat sakit kencing dan penawar racun.

SENTRA PENANAMAN PISANG 

Hampir di setiap tempat dapat dengan mudah ditemukan tanaman pisang. Pusat produksi pisang di Jawa Barat adalah Cianjur, Sukabumi dan daerah sekitar Cirebon. Tidak diketahui dengan pasti berapa luas perkebunan pisang di Indonesia. Indonesia termasuk salah satu negara tropis pengekspor pisang.

SYARAT TUMBUH

  • Iklim tropis basah, lembab dan panas mendukung pertumbuhan pisang. Namun
demikian pisang masih dapat tumbuh di daerah subtropis. Pada kondisi tanpa air, pisang masih tetap tumbuh karena air disuplai dari batangnya yang berair tetapi produksinya tidak dapat diharapkan.
  • Angin dengan kecepatan tinggi seperti angin kumbang dapat merusak daun dan mempengaruhi pertumbuhan tanaman.
  • Curah hujan optimal adalah 1.520–3.800 mm/tahun dengan 2 bulan kering. Variasi
curah hujan harus diimbangi dengan ketinggian air tanah agar tanah tidak tergenang.

Media Tanam 

  • Pisang dapat tumbuh di tanah yang kaya humus, mengandung kapur atau tanah berat. Tanaman ini rakus makanan sehingga sebaiknya pisang ditanam di tanah berhumus dengan pemupukan.
  • Air harus selalu tersedia tetapi tidak boleh menggenang karena pertanaman pisang harus diari dengan intensif. Ketinggian air tanah di daerah basah adalah 50 – 200 cm, di daerah setengah basah 100 – 200 cm dan di daerah kering 50 – 150 cm. Tanah yang telah mengalami erosi tidak akan menghasilkan panen pisang yang baik. Tanah harus mudah meresapkan air. Pisang tidak hidup pada tanah yang mengandung garam 0,07%.

 Ketinggian Tempat                                                        

Pada  umumnya pisang dapat tumbuh di dataran rendah sampai pegunungan setinggi 2.000 m dpl. Pisang ambon,nangka dan tanduk tumbuh baik sampai ketinggian 1.000 m dpl

PEDOMAN BUDIDAYA PISANG 

Pembibitan
Pisang diperbanyak dengan cara vegetatif berupa tunas-tunas (anakan)
  • Persyaratan Bibit
Tinggi anakan yang dijadikan bibit adalah 1-1,5 m dengan lebar potongan umbi 15-20 cm. Anakan diambil dari pohon yang berbuah baik dan sehat. Tinggi bibit akan berpengaruh terhadap produksi pisang (jumlah sisir dalam tiap tandan). Bibit anakan ada dua jenis: anakan muda dan dewasa. Anakan dewasa lebih baik digunakan karena sudah mempunyai bakal bunga dan persediaan makanan di dalam bonggol sudah banyak. Penggunaan bibit yang berbentuk tombak (daun masih berbentuk seperti pedang, helai daun sempit) lebih diutamakan daripada  bibit dengan daun yang lebar.
  •  Penyiapan Bibit
Bibit dapat dibeli dari daerah/tempat lain atau disediakan di kebun sendiri.Tanaman untuk bibit ditanam dengan jarak tanam agak rapat sekitar 2 x 2 m.Satu pohon induk dibiarkan memiliki tunas antara 7-9. Untuk menghindari terlalu banyaknya jumlah tunas anakan, dilakukan pemotongan / penjarangan tunas.
  •  Sanitasi Bibit Sebelum Ditanam
Untuk menghindari penyebaran hama/penyakit, sebelum ditanam bibit diberi perlakuan sebagai berikut:
  • Setelah dipotong, bersihkan tanah yang menempel di akar.
  • Simpan bibit di tempat teduh 1-2 hari sebelum tanam agar luka pada umbi mengering. Buang daun-daun yang lebar.
  • Rendam umbi bibit sebatas leher batang di dalam insektisida 0,5–1% selama 10 menit. Lalu bibit dikeringanginkan.
  • Jika tidak ada insektisida, rendam umbi bibit di air mengalir selama 48 jam.
  • Jika di areal tanam sudah ada hama nematoda, rendam umbi bibit di dalam air panas beberapa menit.

Pengolahan Media Tanam Pisang 

  •  Pembukaan Lahan
Pemilihan lahan harus mempertimbangkan aspek iklim, prasarana ekonomi dan letak pasar/industri pengolahan pisang, juga harus diperhatikan segi keamanan sosial.
Untuk membuka lahan perkebunan pisang, dilakukan pembasmian gulma, rumput
atau semak-semak, penggemburan tanah yang masih padat; pembuatan sengkedan dan pembuatan saluran pengeluaran air.
  • Pembentukan Sengkedan
Bagian tanah yang miring perlu disengked (dibuat teras). Lebar sengkedan tergantung dari derajat kemiringan lahan. Lambung sengkedan ditahan dengan rerumputan atau batu-batuan jika tersedia. Dianjurkan untuk menanam tanaman legum seperti lamtoro di batas sengkedan yang berfungsi sebagai penahan eros dan juga penahan angin.
  • Pembuatan Saluran Pembuangan Air
Saluran ini harus dibuat pada lahan dengan kemiringan kecil dan tanah-tanah datar. Di atas landasan dan sisi saluran ditanam rumput untuk menghindari erosi dari landasan saluran itu sendiri.

Teknik Penanaman Pisang

Penentuan Pola Tanaman
Jarak tanam tanaman pisang cukup lebar sehingga pada tiga bulan pertama memungkinkan dipakai pola tanam tumpang sari/tanaman lorong di antara tanaman pisang. Tanaman tumpang sari/lorong dapat berupa sayur-sayuran atau tanaman pangan semusim.
Di kebanyakan perkebunan pisang di wilayah Asia yang curah hujannya tinggi, pisang ditanam bersama-sama dengan tanaman perkebunan kopi, kakao, kelapa.
  •  Pembuatan Lubang Tanam
Ukuran lubang adalah 50 x 50 x 50 cm pada tanah berat , 30 x 30 x 30 cm atau 40 x40 x 40 cm untuk tanah gembur. Jarak tanam 3 x 3 m untuk tanah sedang dan 3,3 x 3,3 m untuk tanah berat.
  •  Cara Penanaman
Penanaman dilakukan menjelang musim hujan (September-Oktober). Sebelum tanam lubang diberi pupuk organik seperti pupuk kandang/kompos sebanyak 15–20 kg. Pemupukan organik sangat berpengaruh terhadap kualitas rasa buah. 

Pemeliharaan Tanaman Pisang

  • Penjarangan
Untuk mendapatkan hasil yang baik, satu rumpun harus terdiri atas 3-4 batang. Pemotongan anak dilakukan sedemikian rupa sehingga dalam satu rumpun terdapat anakan yang masing-masing berbeda umur (fase pertumbuhan). Setelah 5 tahun rumpun dibongkar untuk diganti dengan tanaman yang baru.
  • Penyiangan
Rumput/gulma di sekitar pohon induk harus disiangi agar pertumbuhan anak dan juga induk baik. Penyiangan dilakukan bersamaan dengan penggemburan dan penimbunan dapuran oleh tanah agar perakaran dan tunas bertambah banyak. Perlu diperhatikan bahwa perakaran pisang hanya rata-rata 15 cm di bawah permukaan tanah, sehingga penyiangan jangan dilakukan terlalu dalam.
1. Perempalan
Daun-daun yang mulai mengering dipangkas agar kebersihan tanaman dan sanitasi lingkungan terjaga. Pembuangan daun-daun ini dilakukan setiap waktu.
  •  Pemupukan
Pisang sangat memerlukan kalium dalam jumlah besar. Untuk satu hektar, pisang memerlukan 207 kg urea, 138 kg super fosfat, 608 kg KCl dan 200 kg batu kapur sebagai sumber kalsium.
Pupuk N diberikan dua kali dalam satu tahun yang diletakkan di dalam larikan yang mengitari rumpun tanaman. Setelah itu larikan ditutup kembali dengan tanah. Pemupukan fosfat dan kalium dilaksanakan 6 bulan setelah tanam (dua kali dalamsetahun).
  • Pengairan dan Penyiraman
Pisang akan tumbuh subur dan berproduksi dengan baik selama pengairannya terjaga. Tanaman diairi dengan cara disiram atau mengisi parit-parit/saluran air yang berada di antara barisan tanaman pisang.
  • Pemberian Mulsa
Tanah di sekitar rumpun pisang diberi mulsa berupa daun kering ataupun basah. Mulsa berguna untuk mengurangi penguapan air tanah dan menekan gulma, tetapi pemulsaan yang terus menerus menyebabkan perakaran menjadi dangkal sehingga pada waktu kemarau tanaman merana. Karena itu mulsa tidak boleh dipasang terus menerus.
  • Pemeliharaan Buah
Jantung pisang yang telah berjarak 25 cm dari sisir buah terakhir harus dipotong  agar pertumbuhan buah tidak terhambat. Setelah sisir pisang mengembang sempurna, tandan pisang dibungkus dengan kantung plastik bening. Kantung plastik polietilen dengan ketebalan 0,5 mm diberi lubang dengan diameter 1,25 cm. Jarak tiap lubang 7,5 cm. Ukuran kantung plastik adalah sedemikian rupa sehingga menutupi 15-45 cm di atas pangkal sisir teratas dan 25 cm di bawah ujung buah dari sisir terbawah. Untuk menjaga agar tanaman tidak rebah akibat beratnya tandan, batang tanaman disangga dengan bambu yang dibenamkan sedalam 30 cm ke dalam tanah.

HAMA DAN PENYAKIT POHON PISANG 

Hama
  • Ulat daun (Erienota thrax.)
Bagian yang diserang adalah daun.
Gejala: daun menggulung seperti selubung dan sobek hingga tulang daun.
Pengendalian: dengan menggunakan insektisida yang cocok belum ada, dapat dicoba dengan insektisida Malathion.
  • Uret kumbang (Cosmopolites sordidus)
Bagian yang diserang adalah kelopak daun, batang.
Gejala: lorong-lorong ke atas/bawah dalam kelopak daun, batang pisang penuh lorong. Pengendalian: sanitasi rumpun pisang, bersihkan rumpun dari sisa batang pisang, gunakan bibit yang telah disucihamakan.
  • Nematoda (Rotulenchus similis, Radopholus similis).
Bagian yang diserang adalah akar.
Gejala: tanaman merana, terbentuk rongga atau bintik kecil di dalam akar, akar bengkak.
Pengendalian: gunakan bibit yang telah disucihamakan, tingkatkan humus tanah dan gunakan lahan dengan kadar lempung kecil.
  • Ulat bunga dan buah (Nacoleila octasema.)
Bagian yang diserang adalah bunga dan buah.
Gejala: pertumbuhan buah abnormal, kulit buah berkudis. Adanya ulat sedikitnya 70 ekor di tandan pisang.
Pengendalian: dengan menggunakan insektisida.
Penyakit
  • Penyakit darah
Penyebab: Xanthomonas celebensis (bakteri). Bagian yang diserang adalah jaringan tanaman bagian dalam.
Gejala: jaringan menjadi kemerah-merahan seperti berdarah.
Pengendalian: dengan membongkar dan membakar tanaman yang sakit.
  • Panama
Penyebab: jamur Fusarium oxysporum. Bagian yang diserang adalah daun.
Gejala: daun layu dan putus, mula-mula daun luar lalu daun di bagian dalam, pelepah daun membelah membujur, keluarnya pembuluh getah berwarna hitam.
Pengendalian: membongkar dan membakar tanaman yang sakit.
  • Bintik daun
Penyebab: jamur Cercospora musae. Bagian yang diserang adalah daun dengan gejala bintik sawo matang yang makin meluas.
Pengendalian: dengan menggunakan fungisida yang mengandung Copper oksida atau Bubur Bordeaux (BB).
  • Layu
Penyebab: bakteri Bacillus . Bagian yang diserang adalah akar. Gejala: tanaman layu dan mati.
Pengendalian: membongkar dan membakar tanaman yang sakit.
  •  Daun pucuk
Penyebab: virus dengan perantara kutu daun Pentalonia nigronervosa. Bagian yang diserang adalah daun pucuk.
Gejala: daun pucuk tumbuh tegak lurus secara berkelompok.
Pengendalian: cara membongkar dan membakar tanaman yang sakit.
Gulma
Tidak lama setelah tanam dan setelah kanopi dewasa terbentuk, gulma akan menjadi persoalan yang harus segera diatasi. Penanggulangan dilakukan dengan:
  • Penggunaan herbisida seperti Paraquat, Gesapax 80 Wp, Roundup dan dalapon.
  • Menanam tanaman penutup tanah yang dapat menahan erosi, tahan naungan, tidak mudah diserang hama-penyakit, tidak memanjat batang pisang. MisalnyaGeophila repens.
  • Menutup tanah dengan plastik polietilen.





PANEN PISANG 



Ciri dan Umur Panen
Pada umur 1 tahun rata-rata pisang sudah berbuah. Saat panen ditentukan oleh umur buah dan bentuk buah. Ciri khas panen adalah mengeringnya daun bendera. Buah yang cukup umur untuk dipanen berumur 80-100 hari dengan siku-siku buah yang masih jelas sampai hampir bulat. Penentuan umur panen harus didasarkan pada jumlah waktu yang diperlukan untuk pengangkutan buah ke daerah penjualan sehingga buah tidak terlalu matang saat sampai di tangan konsumen. Sedikitnya buah pisang masih tahan disimpan 10 hari setelah diterima konsumen.
Cara Panen
Buah pisang dipanen bersama-sama dengan tandannya. Panjang tandan yang diambil adalah 30 cm dari pangkal sisir paling atas. Gunakan pisau yang tajam dan bersih waktu memotong tandan. Tandan pisang disimpan dalam posisi terbalik supaya getah dari bekas potongan menetes ke bawah tanpa mengotori buah.Dengan posisi ini buah pisang terhindar dari luka yang dapat diakibatkan olehpergesekan buah dengan tanah. Setelah itu batang pisang dipotong hingga umbi batangnya dihilangkan sama sekali.Jika tersedia tenaga kerja, batang pisang bisa saja dipotong sampai setinggi 1 m dari permukaan tanah. Penyisaan batang dimaksudkan untuk memacu pertumbuhan tunas.
Periode Panen
Pada perkebunan pisang yang cukup luas, panen dapat dilakukan 3-10 hari sekali tergantung pengaturan jumlah tanaman produktif.

PASCAPANEN 

Secara konvensional tandan pisang ditutupi dengan daun pisang kering untuk mengurangi penguapan dan diangkut ke tempat pemasaran dengan menggunakan kendaraan terbuka/tertutup. Untuk pengiriman ke luar negeri, sisir pisang dilepaskandari tandannya kemudian dipilah-pilah berdasarkan ukurannya. Pengepakan dilakukan dengan menggunakan wadah karton. Sisir buah pisang dimasukkan ke dos dengan posisi terbalik dalam beberapa lapisan. Sebaiknya luka potongan di ujung sisir buah pisang disucihamakan untuk menghindari pembusukan.

Penentuan Keseragaman Ukuran Buah Pisang 

Ukur panjang dari setiap buah contoh dan dihitung mulai dari ujung buah sampai pangkal tangkai dari seluruh contoh uji dengan menggunakan alat pengukur yang sesuai. Ukur pula garis tengah buah dengan menggunakan mistar geser.

Penentuan Tingkat Ketuaan Buah Pisang 

Perhatikan sudut-sudut pada kulit buah pisang segar. Buah yang tidak bersudut lagi (hampir bulat) berati sudah tua 100%, sedangkan yang masih sangat nyata sudutnya berarti tingkat ketuaan masih 70% atau kurang.

Penentuan Tingkat Kerusakan Fisik/Mekanis Buah Pisang 

Hitung jumlah jari dari seluruh contoh buah pisang. Amati satu persatu jari buah secara visual dan pisahkan buah yang dinilai mengalami kerusakan mekanis/fisik berupa luka atau memar. Hitung jumlah yang rusak lalu bagi dengan jumalh keseluruhannya dan dikalikan dengan 100%.

Penentuan Kadar Kotoran 

Timbang seluruh contoh buah yang diuji, amati secara visual kotoran yang ada, pisahkan kotoran yang ada pada buah dan kemasannya seperti tanah, getah, batang, potongan daun atau benda lain yang termasuk dalam istilah kotoran yang menempel pada buah dan kemasan, lalu timbang seluruh kotoran. Berat kotoran per berat seluruh contoh buah yang diuji kali dengan 100%.

Pengemasan 

Untuk pisang tropis, kardus karton yang digunakan berukuran 18 kg atau 12 kg.Kardus dapat dibagi menjadi dua ruang atau dibiarkan tanpa pembagian ruang.Sebelum pisang dimasukkan, alasi/lapisi bagian bawah dan sisi dalam kardusdengan lembaran plastik/kantung plastik. Setelah pisang disusun tutup pisangdengan plastik tersebut. Dapat saja kelompok(cluster)pisang dibungkus dengan plastik lembaran/kantung plastik sebelumdimasukkan ke dalam kardus karton.
Pada bagian luar dari kemasan, diberi label yang bertuliskan antara lain:
a) Produksi Indonesia
b) Nama kultivar pisang
c) Nama perusahaan/ekspotir
d) Berat bersih
e) Berat kotor
f) Identitas pembeli
g) Tanggal panen
h) Saran suhu penyimpanan/pengangkutan

-SEMOGA BERGUNA-

















KEBUN PISANG MULTI VARIETAS DAN MULTI KULTUR

Ketika tahun 1997 wabah pseudomonas dan fusarium melanda kebun pisang rakyat maupun perkebunan besar di Indonesia, tetap ada tanaman pisang yang selamat. Pertama, yang bisa selamat dari amukan penyakit tersebut adalah jenis pisang "bandel" seperti mas, muli, dan lilin. Tetapi pisang-pisang yang sangat rentan penyakit seperti kepok kuning, ambon kuning, raja sereh, raja bulu dan tanduk pun, tetap ada yang selamat. Pisang-pisang tersebut selalu berada di kebun atau pekarangan rumah penduduk dengan tanaman yang campuraduk. Berbagai jenis pisang ada di sana, berbagai jenis tanaman juga tegak di kebun itu. Mulai dari tanaman semusim seperti kunyit dan keladi sampai ke tenaman keras seperti bambu, petai dan kelapa. Tempat tumbuh tanaman pisang yang selamat dari amukan penyakit itu selalu sangat subur dan  kaya bahan organik. Pada musim kemarau panjang, kelembapan udara serta tanah juga masih tetap terjada dengan baik.
Sebaliknya, areal perkebunan pisang yang hancur oleh penyakit adalah tanaman monokultur, bahkan mono varietas. Artinya, kebun pisang dengan satuan hamparan luas itu hanya ditanami pisang dan hanya terdiri dari satu jenis. Contoh paling ekstrim adalah kebun pisang cavendish. Meskipun kebun ini sudah dilengkapi dengan parit drainase selebar 1 m. dengan kedalaman 1,5 m, diberi pengairan dengan teknik sprinkle, diberi pupuk dan rutun disemprot pestisida, namun tetap saja habis terkena penyakit. Kebun PT Nusantara Tropical Fruits seluas 2.000 hektar di Lampung, tinggal ratusan hektar yang selamat. Kebun PT Global Agronusa Indonesia seluas 3.000 hektar di Halmahera, Maluku, malahan hancur total oleh penyakit ini. Tanaman pisang rakyat dengan jenis-jenis komersial seperti ambon kuning, barangan dll. juga hancur terkena penyakit tadi. Seorang mantan bupati di Sumsel yang mencoba mengembangkan pisang barangan monokultur juga mengalami nasib demikian.

Gagalnya pengembangan kebun-kebun cavendish di Indonesia, terutama disebabkan oleh lokasinya yang sangat berdekatan dengan katulistiwa. Filipina meskipun sama-sama negara tropis, letaknya sudah di atas 10° lintang utara. Lampung masih di bawah 5° dan Halmahera justru menempel di katulistiwa. Pengembangan cavendish di Jatim, tepatnya di Kab. Mojokerto, bisa lebih baik dari di Lampung, karena Mojokerto letaknya sekitar 7,5° lintang selatan. Pengembangan cavendish secara monokultur dan mono varietas di Australia dan Filipina relatif berhasil karena tingkat kelembapan udara di dua kawasan tadi sudah relatif rendah didanding dengan kelembapan rata-rata di Indonesia. Demikian pula halnya dengan Kostarika yang dikenal sebagai negeri pisang, letaknya persis pada 10° lintang utara. Ini semua membuat pengembangan pisang secara monokultur dan mono varietas menjadi dimungkinkan. Problematik mereka justru hanya masalah pengairan.
Selain jenis cavendish dan barangan, di Indonesia belum pernah ada kebun pisang komersial yang dikelola secara serius. Yang disebut sebagai pisang komersial adalah, 1) ambon kuning, 2) kepok kuning, 3) raja sereh (susu), 4) raja bulu, 5) tanduk, 6) mas. Selain jenis-jenis tersebut, masih ada pula pisang-pisang yang tetap laku dijual, tetapi nilai ekonomisnya tidak tinggi. Misalnya pisang nangka, kapas, muli, lilin (janten) dll. Disebut sebagai ambon kuning, sekadar untuk membedakannya dengan ambon lumut dan ambon putih. Di beberapa tempat, misalnya di Bandung, ambon lumur justru sangat digemari konsumen. Tetapi pada umumnya, ambon kuning tetap lebih memiliki potensi pasar. Ambon putih sulit sekali dipasarkan. Demikian pula halnya dengan kepok putih yang hanya lazim dimanfaatkan sebagai pakan burung. Yang dimaksudkan dengan ambon putih serta kepok putih adalah, warna daging buahnya. Sementara warna kulitnya tetap kuning. Beda dengan ambon lumut yang warna kulit buahnya memang akan tetap hijau meskipun telah masak.
Raja bulu yang memiliki nilai komersial baik adalah raja bulu merah. Yakni raja bulu yang daging buahnya kuning oranye kemerah-merahan. Selain itu masih ada pula raja bulu dengan daging buah putih yang kurang disukai konsumen. Raja sereh atau pisang susu malahan ada 3 macam. Pertama yang berukuran besar, tetapi rasanya sedikit masam. Kedua yang berukuran lebih kecil tetapi rasanya sangat manis dengan daging buah yang lebih kering (kesat). Dua jenis pisang raja sereh ini kulit buahnya akan berwarna kuning kecokelatan dengan bintik-bintik cokelat tua. Bintik-bintik pada pisang raja sereh ini bukannya disebabkan oleh luka tusukan hama trips, melainkan oleh bintik gula (sugar spot). Hingga masyarakat yang selalu mengatakan bahwa raja sereh yang manis adalah yang kulitnya cokelat kehitaman memang benar. Karena masih ada satu lagi jenis raja sereh yang warna kulit buahnya justru kuning muda mulus namun rasanya sangat sepat serta masam. Pisang tanduk pun ada dua macam. Pertama yang berdaging muah kemerahan. Di Kab. Lumajang, Jatim, pisang demikian disebut sebagai pisang agung. Selain itu masih ada lagi pisang tanduk dengan daging buah putih.
Alam, tampaknya memang telah mengatur bahwa pisang-pisang yang enak dengan kualitas baik tadi justru sangat rentan terhadap serangan hama serta penyakit. Pisang-pisang jelek yang nilai komersialnya rendah justru sangat tahan penyakit. Pisang mas, lilin dan muli misalnya, sama sekali tidak mempan terserang fusarium dan pseudomonas. Dari enam pisang komersial tadi, ada yang umurnya genjah, yakni 6 bulan dari sejak tanam (benih anakan tinggi 1m.); sudah akan berbuah. Pisang raja sereh sekitar 7 sampai 8 bulan. Ambon dan raja bulu antara 8 bulan sampai dengan 10 bulan. Kepok kuning dan tanduk perlu waktu sampai 18 bilan (1,5 tahun) untuk berbuah. Harga paling tinggi adalah tanduk yakni sampai Rp 1.800,- per kg. di tingkat petani. Disusul dengan raja bulu  Rp 1.500,- kg. kemudian ambon kuning Rp 1.200,- per kg. raja sereh / kepok kuning  Rp 1.000,- per kg. dan mas Rp 800,- per kg. Meskipun tanduk dan raja bulu menduduki ranking harga tertinggi, namun pangsa pasarnya sangat kecil. Sebab pisang tanduk termasuk jenis olahan (bukan pisang meja) sementara raja bulu jenis dwi guna. Yang memiliki pangsa pasar terbesar tetap pisang mabon kuning, karena penggunaannya untuk pisang meja. 
Itu semua untuk pasar dalam negeri. Untuk pasar ekspor lain lagi. Ambon kuning tidak mungkin diekspor karena dua alasan. Pertama, masrarakat internasional akan menganggapnya sebagai cavendish. Kedua, beda dengan cavendish yang tangkai buah serta kulitnya kuat, ambon kuning sangat lemah. Yang memiliki tangkai buah serta kulit kuat hanyalah raja bulu dan kepok kuning. Karenanya, kalau pengembangan kebun pisang komersial berorientasi pasar dalam negeri, maka konsentrasinya harus ke ambon kuning. kalau tujuannya untuk ekspor, maka jenisnya raja bulu dan kepok kuning. Hingga rumusan untuk kebun dengan orientasi pasar dalam negeri adalah, ambon kuning 50%, raja sereh 20%, raja bulu 10% tanduk, kepok kuning dan mas 20%. Kalau tujuannya untuk ekspor maka komposisinya raja bulu 40%, kepok kuning 30%, tanduk 10% dan ambon kuning, mas serta raja sereh 20%. Komposisi itu bisa digabung. Misalnya, ambon kuning 30%, raja bulu 30%, kepok kuning, tanduk, raja sereh dan mas masing-masing 10%. Orientasinya pasar dalam negeri dan ekspor.
Populasi ideal tanaman pisang ambon kuning atau raja bulu per hektar adalah 1.500 tanaman. Dengan jarak tanam 2 X 3 meter. Namun dalam pelaksanaan penanaman jarak tanam itu dibuat 2 m. (membujur) X 3,5 X 2,5 X 3,5 m. dst. (melintang).  Pada jarak 2,5 m. dibuat parit drainase selebar 0,5 m. dengan kedalaman 0,7 m. Sementara jarak 3,5 m. akan digunakan untuk kendaraan (pick up) atau traktor yang akan membawa pupuk kandang serta hasil panen. Jarak tanam yang 2 m. tersebut, dalam budidaya sistem multi varietas harus domodifikasi sesuai dengan verietas yang ditanam. Misalnya, pada ambon dan raja bulu, jarak itu tetap 2 m. Tetapi pada  kepok kuning dan tanduk,  diperlebar menjadi  2,5 m. Pada raja sereh dan mas, justru diperpendek menjadi 1,5 meter. Populasi total per hektar tetap sekitar 1.500 tanaman. Di kalangan petani, biaya tanam pisang ambon kuning atau raja bulu, Rp 5.000,- per tanaman sampai dengan berbuah pertama. Pera petani tidak pernah memberi pupuk maupun pestisida, tenaga kerja untuk kontrol juga tidak dihitung. Jadi Rp 5.000,- tersebut hanyalah biaya benih, tanam dan panen.
Pada budidaya komersial, biaya tersebut harus ditambah Rp 5.000,- untuk pupuk dan pestisida pada tahun I. Pada tahun II dst, biaya pupuk dan pestisida akan meningkat menjadi 3 X lipat, karena tiap rumpun pisang akan bisa dipanen sebanyak 3 kali. Kemudian masih ada biaya Rp 6.000,- untuk upah tenaga harian. Perhitungan upah harian adalah, tiap hektar bisa dikerjakan oleh 2 orang dengan UMR Rp 12.000,- berarti tiap 0,5 lahan akan ditangani oleh 1 tenaga kerja dengan upah per tahun Rp 12.000,- X 365 (hari) : 750 (populasi pisang per 0,5 hektar) = Rp 5.840,- yang dibulatkan menjadi Rp 6.000,- Dalam perkebunan pisang skala komersial diperlukan pengairan intensif. Pengadaan air dengan biaya tertinggi adalah apabila harus mengambil air tanah dengan sumur dalam. Biaya pengeboran berikut pompa, survei, ijin, instalasi dan penampungan sekitar Rp 200.000.000,- yang bisa mengkover areal 10 hektar. Biaya investasi ini harus disusutkan paling sedikit untuk jangka waktu 5 tahun. Plus biaya investasi lainnya berikut benab manajemen, total biaya pembukaan kebun pisang skala komersial menjadi Rp 50.000.000,- per hektar.
Biaya per hektar Rp 50.000.000,- tersebut untuk skala minimal 10 hektar. Kalau kebun yang akan dibuka hanya 5 hektar atau malahan hanya 2 hektar, maka biaya per hektarnya akan jatuh lebih tinggi lagi. Sebaliknya apabila kita akan membuka sampai 50 hektar, maka biayanya akan menurun, meskipun angka nominal penurunannya tidak terlalu besar. Hasil pisang 1.500 tandan, dihitung rata-rata 6 sisir per tandan dengan berat per sisir 2,5 kg dan dengan harga rata-rata  Rp 1.200,- Hingga pendapatan per tanaman adalah Rp Rp 1.200,- X 2.5 X = Rp 18.000,- Hasil per hektarnya dikalikan 1.500,- menjadi Rp 36.000.000,- Pada tahun II dst. hasil ini akan meningkat menjadi 3 X lipat yakni Rp 108.000.000,- tetapi biaya pupuk dan pestisida juga akan naik menjadi Rp 15.000,- X 1.500 per hektar atau Rp 22.500.000,- Secara ringkas, dengan skala minimal 10 hektar, dengan biaya Rp 500.000.000,- suku bunga 20% dan grace period 1 tahun, maka dalam waktu 4 tahun pinjaman untuk budidaya pisang ini sudah bisa dilunasi. Jadi sebenarnya peluang tersebut masih cukup baik